Bogor - Siapa tak kenal dengan sungai Ciliwung. Sungai yang terkenal se-bagai sungai penyebab banjir ketika musim penghujan tiba dan pembawa berbagai macam sampah sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Predikat sungai jorok pun melekat pada sungai Ciliwung. Sungai yang juga menjadi saksi bisu masa lalu Indonesia seharusnya dapat dijadikan sebagai salah satu aset Indonesia, khususnya untuk Bogor dan Jakarta. Bukannya dijadikan tempat pembuangan sampah.
Kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap sungai adalah tempat pembuangan sampah, teru-tama masyarakat yang tinggal di dekat sungai. Padahal tindakkan membuang sampah ke sungai dapat menimbulkan bencana banjir di kala musim penghujan. Sebab, sampah-sampah tersebut akan menghambat aliran sungai.
Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat kurang peduli dengan kondisi sungai di Indonesia, khususnya sungai Ciliwung. Demikian yang dikatakan Hapsoro, koordinator Komunitas Ciliwung, kepada Jurnal Bogor, kemarin. Hapsoro mengatakan, ia bersama dengan rekan-rekannya membentuk Komunitas Ciliwung lantaran keprihatinan mereka terhadap kondisi sungai di Indonesia.
“Komunitas ini memang bernama Komunitas Ciliwung, namun bukan berarti kami hanya peduli dengan sungai Ciliwung. Saat ini kami memang berkonsentrasi dulu di sungai Ciliwung, sebab sungai tersebut terkenal jorok dan penyebab banjir,” ujar pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1971 itu.
Lebih lanjut Hapsoro menjelaskan, komunitas tersebut berencana me-lakukan kegiatan rutin mulung sampah di sungai Ciliwung. Hal itu sudah dilakukannya beberapa waktu lalu di bantaran sungai Ciliwung, di kawasan Sempur, Bogor. “Saat itu kami berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 180 karung dalam waktu tiga jam. Itu menandakan betapa banyaknya sampah yang dibuang oleh masyarakat ke sungai Ciliwung,” keluhnya.
Hapsoro menuturkan, kegiatan mulung sampah yang dilakukan Komunitas Ciliwung memang tidak bisa membersihkan sungai Ciliwung. Namun, ia berharap dengan kegiatan rutin tersebut, masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak lagi membuang sampah di sungai dan mau untuk membersihkan sampah di bantaran sungai di sekitar rumah mereka.
“Kegiatan mulung sampah kami lakukan di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang dan dilakukan pada hari libur, yaitu Minggu. Oleh karena itu, sementara kami memilih bantaran sungai Ciliwung di kawasan Sempur untuk dibersihkan, karena siapapun dapat berpartisipasi dan warga yang tidak berpartisipasi pun bisa melihat kegiatan kami,” paparnya.
Dikatakan Hapsoro, siapapun dapat menjadi anggota Komunitas Ciliwung. Yang penting memiliki kepedulian terhadap lingkungan, khususnya kondisi sungai. “Saat ini yang dibutuhkan bukan sekedar seminar atau wacana bagaimana mengatasi sungai Ciliwung yang kotor, tetapi sebuah tindakkan. Semoga masyarakat yang hanya menyaksikan kami saat mulung sampah di Ciliwung dapat bergabung untuk membantu,” pungkas pehobi mancing ikan itu.
Hutami Pudya Mulyani
Sumber=
http://www.jurnalbogor.com/?p=15750
Kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap sungai adalah tempat pembuangan sampah, teru-tama masyarakat yang tinggal di dekat sungai. Padahal tindakkan membuang sampah ke sungai dapat menimbulkan bencana banjir di kala musim penghujan. Sebab, sampah-sampah tersebut akan menghambat aliran sungai.
Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat kurang peduli dengan kondisi sungai di Indonesia, khususnya sungai Ciliwung. Demikian yang dikatakan Hapsoro, koordinator Komunitas Ciliwung, kepada Jurnal Bogor, kemarin. Hapsoro mengatakan, ia bersama dengan rekan-rekannya membentuk Komunitas Ciliwung lantaran keprihatinan mereka terhadap kondisi sungai di Indonesia.
“Komunitas ini memang bernama Komunitas Ciliwung, namun bukan berarti kami hanya peduli dengan sungai Ciliwung. Saat ini kami memang berkonsentrasi dulu di sungai Ciliwung, sebab sungai tersebut terkenal jorok dan penyebab banjir,” ujar pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1971 itu.
Lebih lanjut Hapsoro menjelaskan, komunitas tersebut berencana me-lakukan kegiatan rutin mulung sampah di sungai Ciliwung. Hal itu sudah dilakukannya beberapa waktu lalu di bantaran sungai Ciliwung, di kawasan Sempur, Bogor. “Saat itu kami berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 180 karung dalam waktu tiga jam. Itu menandakan betapa banyaknya sampah yang dibuang oleh masyarakat ke sungai Ciliwung,” keluhnya.
Hapsoro menuturkan, kegiatan mulung sampah yang dilakukan Komunitas Ciliwung memang tidak bisa membersihkan sungai Ciliwung. Namun, ia berharap dengan kegiatan rutin tersebut, masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak lagi membuang sampah di sungai dan mau untuk membersihkan sampah di bantaran sungai di sekitar rumah mereka.
“Kegiatan mulung sampah kami lakukan di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang dan dilakukan pada hari libur, yaitu Minggu. Oleh karena itu, sementara kami memilih bantaran sungai Ciliwung di kawasan Sempur untuk dibersihkan, karena siapapun dapat berpartisipasi dan warga yang tidak berpartisipasi pun bisa melihat kegiatan kami,” paparnya.
Dikatakan Hapsoro, siapapun dapat menjadi anggota Komunitas Ciliwung. Yang penting memiliki kepedulian terhadap lingkungan, khususnya kondisi sungai. “Saat ini yang dibutuhkan bukan sekedar seminar atau wacana bagaimana mengatasi sungai Ciliwung yang kotor, tetapi sebuah tindakkan. Semoga masyarakat yang hanya menyaksikan kami saat mulung sampah di Ciliwung dapat bergabung untuk membantu,” pungkas pehobi mancing ikan itu.
Hutami Pudya Mulyani
Sumber=
http://www.jurnalbogor.com/?p=15750
Komunitas Ciliwung, Mulung Sampah di Ciliwung
Reviewed by Dwi Lesmana
on
Kamis, Maret 26, 2009
Rating:

Tidak ada komentar
Posting Komentar